Postingan

Menampilkan postingan dengan label Berbagi

Badut Jalanan

Gambar
Apa yang kamu pikirkan ketika melewati badut di perempatan lampu merah di bawah terik matahari? I guess , lebih banyak orang memilih untuk melewatinya begitu saja. Well , bagi saya, badut itu lucu dan menggemaskan, asal wajahnya tidak seperti badut McDonald's, saya memiliki trauma masa kecil dengan badut itu.  Kemarin, ketika melewati perempatan lampu merah ke arah parung dan yasmin bogor, saya melewati badut berwajah mickey mouse. Biasanya, saya hanya melewatinya dengan melemparkan senyuman saya atau dengan tambahan sedikit tawa melihat gerakannya menari. Tapi siang itu, kelucuan badut mickey berbuah iba pada saya. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran saya bagaimana sulitnya Ia mencari nafkah di siang ini, dengan cuaca yang panas dan kostum yang membuat pengap, sungguh iba melihatnya hanya berkeliling di sekitar perempatan. Ah, apa salahnya memberikan sebagian rejeki pada orang2 seperti ini? Lihat, berapa banyak anak kecil yang menangis di jalan lalu terdiam seketika lalu ...

Balada pasca lulus

Gambar
Hello, welcome real life! (Is your life not real now? *lol) Well , jika ada kata yang lebih bisa menggambarkan kata syukur, maka kata itu yang seharusnya saya katakan saat ini. Susi Susanti, S.Hut What is it? I have new letters behind my real name? Sejujurnya, setelah saya dinyatakan lulus pasca sidang, saya merasakan kelegaan sekaligus beban yang luar biasa. Kenapa? Siapa sih yang nggak mau lulus kuliah? I've been a student of Silviculture for 4 years after confused for 2 years to enter it. Ada dunia lain di luar kampus yang harus segera saya masuki. Cukup sudah membebani kampus dengan subsidi pada mahasiswa yang lama-lama di kampus. Tapi, di sisi lain ada perasaan ragu untuk memasuki dunia pasca kampus. Pertanyaannya adalah, apakah saya bisa melalui tahap peralihan ini nanti? Ragu ya? Honestly, I have to say YES. Saya nggak mau bohong kalau saya nggak khawatir dengan kondisi seperti apa yang akan saya jalani nanti. Loh? Emang nggak disiapin sejak kuliah? Siapin apa? M...

Memilih

Gambar
Ah ya, lagi. Lagi-lagi ini adalah postingan pertama pemecah keheningan di Bulan Mei ini. Selalu saja. Gimana mau jadi penulis kalau nunggu mood ? Kalau nunggu deadline ? Kalau cuma sekedar menuhin target biar postingan tiap bulan selalu ada? Gimana mau jadi penulis? Gimana mau jadi supermomagrowriterpreneur ? << ini bahasa apa sih? (Terserah saya lah ya :D) Sekarang lagi ngerjain revisi skripsi sebagai syarat sidang sih. Alhamdulillah, finally tahap seminar sudah dilewati tanggal 16 Mei yang lalu. Tapi, sekarang rada ke distract  sama pokopang dan medsos, termasuk kamu, iya, kamu, blog! (untung saya ga ngasi imbuhan go depan nama kamu ya, blog :p) Tau ga, tadi habis baca novel Ayah Pidi Baiq yang judulnya DILAN. Dan beberapa jam yang lalu saya mendeklarasikan diri bahwa saya jatuh cinta sama Dilan. Aiiish , ayah Pidi Baiq harus tanggung jawab nih, ngarang tokoh khayalan yang membuat saya jadi suka. Mana bisa ketemu Dilan? Cuma bisa berkhayal doang. Eh, tapi Islam ga ng...

Wong Fei Hung, ULAMA jagoan dari Guandong

Gambar
Kali ini ingin berbagi mengenai sejarah yang bisa jadi selama ini tidak kita ketahui kebenarannya. Tulisan ini sebenarnya sudah lama bertengger di blog saya, tapi sengaja saya perbaharui dengan menambahkan gambar tokoh aslinya. Semoga bermanfaat dan semakin menambah rasa keimanan dan kebanggaan kita dalam berislam. Wong Fei Hung Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film " Once Upon A Time in China ". Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung? Wong Fei Hung adalah seorang ulama, ahli pengobatan, dan ahli beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China .  Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan komunis di China. Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim ya...

RESENSI : KEMI "Cinta Kebebasan yang Tersesat"

Gambar
Hari ini baru saja menyelesaikan membaca novel “KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat” karangan Ustadz Adian Husaini yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia bidang Ghazwul Fikri dan saat ini sedang menjabat sebagai direktur Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor sejak 2010.  KEMI, awalnya saya bingung saat pertama kali mendengar judulnya. Kok lucu ya? Namun, saat membaca resensi bukunya yang kebetulan saya lihat di toko buku online, saya pun tertarik. Apalagi, disitu ada quote dari seseorang yang sangat saya kagumi, Bapak Taufiq Ismail, sastrawan hebat Indonesia. Ia berkata “Setelah wajah pesantren dicoreng moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, novel Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas, sekaligus gigih membendung gelombang liberalisme.” Siapa yang tak kenal Ustadz Adian Husaini? Bagi saya, yang sangat tertarik dengan isu-isu pemik...

A Gift on November 2011

Gambar
“Utlubul ‘ilma walau fissin” China, siapa tak kenal dia? Kata mutiara di atas kerap kali terdengar manakala seseorang memiliki impian besar menempa ilmu di rantauan. Negeri Panda ini memiliki kenangan khusus bagi saya pada Bulan November 2011 lalu. Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan mengunjungi negara ini, tepatnya di ibukota Beijing selama seminggu. Bermula dari keikutsertaan saya di organisasi kehutanan Internasional, IFSA Lc IPB. Saat itu, FAO serta sejumlah organisasi dan lembaga kehutanan Internasional akan mengadakan APFW (Asia-Pacific Forestry Week) yang kedua di Beijing dengan tema "New Challenges New Opportunities". Ternyata IFSA (International Forestry Students’ Association) sebagai satu-satunya organisasi pemuda kehutanan di dunia juga diikutsertakan untuk meramaikan kegiatan ini dan bersama-sama merumuskan langkah-langkah solutif yang akan ditempuh untuk melestarikan hutan dunia. IFSA pusat pun meminta delegasi kepada setiap Local Committee (Lc) t...

Taste of Nostalgia

Gambar
1 Muharram 1435 H, 23.10 WIB Malam semakin larut, tapi rasanya ada sesuatu yang masih menggelayuti pikiran saya. Tahun telah berganti, tapi rasanya ada semangat yang masih belum berganti hingga akhirnya ia usang dan tak terbersihkan. Ia masih menyisakan memori mendalam dan tak kunjung usai datang bertandang dalam benak saya. Sekuat tenaga saya coba untuk lupakan, semakin kuat pula ia menancap. Tak jarang memori ini membuat saya menangis. Menangis atas kecengengan saya, menangis atas ketidakberdayaan saya, menangis karena malu pada Sang Khalik. Duhai memori, apa begitu berat kamu melenyapkan diri? Atau apakah saya yang tidak siap akan kehilanganmu? Tahun telah berganti, tapi ia menyisakan berjuta kenangan yang tak mungkin bisa diganti. Begitu banyak yang berkata “Andai saya bisa mengulang kembali”. Ah, waktu. Ia tak pernah mau berkompromi dengan siapapun. Ia hanya berkompromi dengan Zat yang menciptakannya. Sayangnya, Zat itupun telah memiliki ketentuannya sendiri. Tahun telah...

Hujan dan Sandal yang Putus

Gambar
Titik-titik air yang turun dari langit selalu punya arti untuk penduduk bumi. Begitupun mereka, anak-anak hujan pembawa payung. Hari ini saya ditugaskan dosen untuk mengamankan barang-barang milik beliau yang ada di expo Agrifuture IPB, tepatnya stand Fakultas Kehutanan.  Jadilah seharian ini saya mondar-mandir di sekitaran Gedung-Halaman Pascasarjana IPB-Botani Square. Tapi bukan tentang Expo ini yang ingin saya ceritakan (mudah-mudahan ada kesempatan menuliskan sedikit kesan tentang acara ini di tulisan saya yang berikutnya). Kali ini saya ingin bercerita tentang anak-anak hujan pembawa payung atau let's say mereka yang sering menawarkan ojek payung ketika hujan tiba. Ya, menjelang sore hingga detik saya membuat tulisan ini, hujan masih betah untuk merengkuh tanah Bogor dan sekitarnya. Dan ini pertanda bahwa anak-anak itu siap untuk menjemput rejeki berbekal sebuah payung. Setelah selesai membenahi barang-barang dari Fakultas Kehutanan, sekitar pukul 8 malam saya ...

Sepintas Gender, Menilik Patriarki

Gambar
Tulisan ini repost dari tulisan saya yang ada di tumblr.. Monggo dibaca :) ... Sepagi ini sedang fokus membaca buku “Gender dan Keluarga" karangan salah satu dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen di IPB, namanya Herien Puspitawati. Membaca satu bab mengenai “Konsep dan Pandangan Budaya di Indonesia tentang Gender dan Kedudukan Perempuan" agak miris rasanya dengan hasil analisis sistem kekeluargaan yang dianut berbagai suku di Indonesia. Kenapa miris?  Just check it out! Sistem kekerabatan di indonesia itu ada 3, patriarki (sistem kekerabatan dimana keluarga inti mengacu pada garis keturunan ayah), matriarki (sistem kekerabatan dimana keluarga inti mengacu pada garis keturunan ibu) dan parental/bilateral (gabungan antara patriarki dan matriarki). Hampir semua suku di Indonesia menganut sistem patriarki, hanya satu suku yang menganut sistem matriarki yakni suku Minangkabau. Beberapa menganut sistem parental, hanya saja sepertinya pengaruh seorang laki-laki tetap domin...