Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hikmah

Balada pasca lulus

Gambar
Hello, welcome real life! (Is your life not real now? *lol) Well , jika ada kata yang lebih bisa menggambarkan kata syukur, maka kata itu yang seharusnya saya katakan saat ini. Susi Susanti, S.Hut What is it? I have new letters behind my real name? Sejujurnya, setelah saya dinyatakan lulus pasca sidang, saya merasakan kelegaan sekaligus beban yang luar biasa. Kenapa? Siapa sih yang nggak mau lulus kuliah? I've been a student of Silviculture for 4 years after confused for 2 years to enter it. Ada dunia lain di luar kampus yang harus segera saya masuki. Cukup sudah membebani kampus dengan subsidi pada mahasiswa yang lama-lama di kampus. Tapi, di sisi lain ada perasaan ragu untuk memasuki dunia pasca kampus. Pertanyaannya adalah, apakah saya bisa melalui tahap peralihan ini nanti? Ragu ya? Honestly, I have to say YES. Saya nggak mau bohong kalau saya nggak khawatir dengan kondisi seperti apa yang akan saya jalani nanti. Loh? Emang nggak disiapin sejak kuliah? Siapin apa? M...

Memilih

Gambar
Ah ya, lagi. Lagi-lagi ini adalah postingan pertama pemecah keheningan di Bulan Mei ini. Selalu saja. Gimana mau jadi penulis kalau nunggu mood ? Kalau nunggu deadline ? Kalau cuma sekedar menuhin target biar postingan tiap bulan selalu ada? Gimana mau jadi penulis? Gimana mau jadi supermomagrowriterpreneur ? << ini bahasa apa sih? (Terserah saya lah ya :D) Sekarang lagi ngerjain revisi skripsi sebagai syarat sidang sih. Alhamdulillah, finally tahap seminar sudah dilewati tanggal 16 Mei yang lalu. Tapi, sekarang rada ke distract  sama pokopang dan medsos, termasuk kamu, iya, kamu, blog! (untung saya ga ngasi imbuhan go depan nama kamu ya, blog :p) Tau ga, tadi habis baca novel Ayah Pidi Baiq yang judulnya DILAN. Dan beberapa jam yang lalu saya mendeklarasikan diri bahwa saya jatuh cinta sama Dilan. Aiiish , ayah Pidi Baiq harus tanggung jawab nih, ngarang tokoh khayalan yang membuat saya jadi suka. Mana bisa ketemu Dilan? Cuma bisa berkhayal doang. Eh, tapi Islam ga ng...

Seperti Bunga

Gambar
Di sela-sela kesabaran (read: menghadapi kebosanan) mengerjakan skripsi hari ini, saya sempatkan untuk meluncur di tumblr beberapa orang yang sering saya kunjungi karena tulisan-tulisannya yang sarat makna. Ah iya, sudah lama sebenarnya saya tidak mengunjungi tumblr mbak Ana M. Rufisa, teman saya di tumblr sejak saya mulai memasuki dunia tumblr 2011. Saat saya mengunjungi tumblr beliau, saya mendapati sebuah tulisannya yang lagi-lagi harus saya akui membuat saya berdecak kagum. Tentang sabar. Ah, sabar. Satu huruf S, satu huruf B, satu huruf R dan dua huruf A. Jumlahnya lima. Simpel. Sederhana. Tapi untuk melakukannya, kita harus bisa menyerahkan sepenuh hati dan iman. Entah datang dari mana, tidak ada yang memulai, dan tidak ada yang memancingnya. Kata itu datang seperti angin yang lupa memberi salam. Satu kata yang menguatkan. Satu kata yang membangkitkan. Kawan, mungkin langkahmu sudah jauh meninggalkan kami, sedangkan kami masih mencoba keluar dari kesulitan-kesulitan yang kam...

Story of #FamGathHore 1: Mengejar Paledang

Gambar
"Gengs, besok kita berangkat kalo bisa jam setengah 6 yak. Kumpul di pangkot aja yak. Yg bisa barengan dr dramaga siapa?" Sengaja aku kirim lagi sms itu sebagai  reminder  pada teman-teman FIM Bogor yang akan mengikuti  family gathering  1 di rumah Shafira, di Sukabumi. Alasannya jelas. Kami akan menaiki kereta. Dan kereta selalu tepat waktu, tak akan menunggu. Jarak dari kampus dalam menuju Stasiun Paledang cukup jauh dan melewati "jalur-jalur setan" alias rawan macet. Oleh karena itu, aku harus mewanti-wanti mereka agar tidak terlambat, karena kami akan menaiki kereta yang berangkat paling awal, jam 7 pagi. Gi, naik motor? Ya ka. Bagus lg ambil dompet dulu di Al-Fath DEG! JENGJENG! Selamat! Anda berhasil membuat saya panik! Membaca balasan sms Gugi membuatku panik sejenak. Yakali, ini udah jam 5.45!  It means  15 menit lagi jam 6! Aku sudah membayangkan berbagai macam kemungkinan dan proses menuju stasiun. Kalau berangkat jam 6 dari rumbel, mungkin...

Sisa Berapa Lembar Lagi?

Gambar
Source Image Here Hari ini hujan sepertinya sedang betah berlama-lama menyentuh permukaan bumi. Sepertinya hujan tau, bahwa benih-benih sedang menunggu siraman airnya, hewan-hewan sedang menunggu rintiknya, dan manusia sedang menunggu waktu mustajabnya untuk berdoa. Maka, berdoalah dengan sebaik-baiknya doa. Sembari menikmati titik-titik air yang turun dari langit, saya kembali membuka buku yang cukup menginspirasi dan mengajak saya untuk banyak merenung, "Diriku, Bagaimana Kabarmu?" Ya, aktivitas yang begitu stagnan belakangan ini membuat jiwa saya cukup dahaga dengan nasihat-nasihat yang menyentuh kalbu. Buku ini banyak mengingatkan saya kembali tentang makna hidup dan menjalani kehidupan di muka bumi ini. Hidup ini ibarat kita membuka lembar demi lembar sebuah buku. Dan setiap lembar buku yang kita buka, adalah ibarat satu hari yang kita lewati. Semakin banyak lembar buku yang kita buka, berarti semakin tipis sisa lembar buku yang kita buka. Hingga akhirny...

Wong Fei Hung, ULAMA jagoan dari Guandong

Gambar
Kali ini ingin berbagi mengenai sejarah yang bisa jadi selama ini tidak kita ketahui kebenarannya. Tulisan ini sebenarnya sudah lama bertengger di blog saya, tapi sengaja saya perbaharui dengan menambahkan gambar tokoh aslinya. Semoga bermanfaat dan semakin menambah rasa keimanan dan kebanggaan kita dalam berislam. Wong Fei Hung Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film " Once Upon A Time in China ". Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung? Wong Fei Hung adalah seorang ulama, ahli pengobatan, dan ahli beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China .  Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan komunis di China. Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim ya...

RESENSI : KEMI "Cinta Kebebasan yang Tersesat"

Gambar
Hari ini baru saja menyelesaikan membaca novel “KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat” karangan Ustadz Adian Husaini yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia bidang Ghazwul Fikri dan saat ini sedang menjabat sebagai direktur Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor sejak 2010.  KEMI, awalnya saya bingung saat pertama kali mendengar judulnya. Kok lucu ya? Namun, saat membaca resensi bukunya yang kebetulan saya lihat di toko buku online, saya pun tertarik. Apalagi, disitu ada quote dari seseorang yang sangat saya kagumi, Bapak Taufiq Ismail, sastrawan hebat Indonesia. Ia berkata “Setelah wajah pesantren dicoreng moreng dalam film Perempuan Berkalung Sorban, novel Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas, sekaligus gigih membendung gelombang liberalisme.” Siapa yang tak kenal Ustadz Adian Husaini? Bagi saya, yang sangat tertarik dengan isu-isu pemik...

A Gift on November 2011

Gambar
“Utlubul ‘ilma walau fissin” China, siapa tak kenal dia? Kata mutiara di atas kerap kali terdengar manakala seseorang memiliki impian besar menempa ilmu di rantauan. Negeri Panda ini memiliki kenangan khusus bagi saya pada Bulan November 2011 lalu. Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan mengunjungi negara ini, tepatnya di ibukota Beijing selama seminggu. Bermula dari keikutsertaan saya di organisasi kehutanan Internasional, IFSA Lc IPB. Saat itu, FAO serta sejumlah organisasi dan lembaga kehutanan Internasional akan mengadakan APFW (Asia-Pacific Forestry Week) yang kedua di Beijing dengan tema "New Challenges New Opportunities". Ternyata IFSA (International Forestry Students’ Association) sebagai satu-satunya organisasi pemuda kehutanan di dunia juga diikutsertakan untuk meramaikan kegiatan ini dan bersama-sama merumuskan langkah-langkah solutif yang akan ditempuh untuk melestarikan hutan dunia. IFSA pusat pun meminta delegasi kepada setiap Local Committee (Lc) t...

Hujan dan Sandal yang Putus

Gambar
Titik-titik air yang turun dari langit selalu punya arti untuk penduduk bumi. Begitupun mereka, anak-anak hujan pembawa payung. Hari ini saya ditugaskan dosen untuk mengamankan barang-barang milik beliau yang ada di expo Agrifuture IPB, tepatnya stand Fakultas Kehutanan.  Jadilah seharian ini saya mondar-mandir di sekitaran Gedung-Halaman Pascasarjana IPB-Botani Square. Tapi bukan tentang Expo ini yang ingin saya ceritakan (mudah-mudahan ada kesempatan menuliskan sedikit kesan tentang acara ini di tulisan saya yang berikutnya). Kali ini saya ingin bercerita tentang anak-anak hujan pembawa payung atau let's say mereka yang sering menawarkan ojek payung ketika hujan tiba. Ya, menjelang sore hingga detik saya membuat tulisan ini, hujan masih betah untuk merengkuh tanah Bogor dan sekitarnya. Dan ini pertanda bahwa anak-anak itu siap untuk menjemput rejeki berbekal sebuah payung. Setelah selesai membenahi barang-barang dari Fakultas Kehutanan, sekitar pukul 8 malam saya ...